Kamis, 03 Juli 2014

makalah ekosistem hutan dataran rendah tahura (6e)

  Foto 

 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... .... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ .... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Pengertian ekosistem hutan dataran rendah
1.1.1        Definisi ekosistem.............................................................................. ................. 1
1.1.2        Definisi hutan..................................................................................... ................. 2
1.1.3        Definisi hutan dataran rendah............................................................ ................. 3
1.1.4        Karakteristik hutan dataran rendah.................................................... ................. 4
1.1.5        Fungsi hutan dataran rendah.............................................................. ................. 6
1.2  Sejarah terbentuknya taman hutan raya sultan syarif hasyim
1.2.1        Dasar hukum................................................................................................... .... 8
1.2.2        Pemberian nama taman hutan raya  sultan syarif hasyim................... ..            .. 9
1.3  Tujuan dan aksebilitas dibentuknya taman hutan raya sultan syarif  hasyim........ 9
1.4   lokasi penelitian ekosisitem hutan dataran rendah tahura  ssh....................... .... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Komponen abiotik dan biotik ekosistem hutan campuran dataran rendah......... 11
2.2. Klimatologis dan edaphis ekosistem hutan dataran rendah
       2.2.1  Klimatologi ekosistem hutan dataran rendah ...................................... .... 17
       2.2.2  Edaphis ekosistem hutan dataran rendah.................................................. 22
2.3  Pola – pola interaksi ekosistem hutan dataran rendah
       2.3.1 Pola interaksi.............................................................................................. 27
       2.3.2 Pola ketergantungan di antara komponen biotik........................................ 27
       2.3.3 Aliran energi dan siklus materi pada ekosistem hutan dataran rendah.      33
2.4  Analisis vegetasi.................................................................................................. 36

 
BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
3.1    Letak, luas dan batas........................................................................................... 51
3.2    Kondisi fisik dasar daerah.................................................................................. 51
3.3    Iklim.   ................................................................................................................ 52
3.4    Kondisi tanah
       3.4.1    Geologi dan morfologi............................................................................ 54
       3.4.2    Klasifikasi tanah...................................................................................... 55
3.5  Kondisi hidrologi................................................................................................ 55
3.6  Flora dan fauna................................................................................................... 56

BAB IV PENUTUP
4.1  Kesimpulan......................................................................................................... 59
4.2  Saran.  ............................................................................................................ .... 59
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... .... 60


 
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Pengertian Ekosistem Hutan Dataran Rendah
1.1.1        Definisi Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup (wikipedia 2010).
Istilah ekosistem pertama kali diusulkan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan inggris bernama A.G. Tansley pada tahun 1935. Meskipun tentu saja konsep itu bukan merupakan konsep yang baru. Terbukti bahwa sebelum akhir tahun 1800-an,pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan dengan ekosistem mulai terbit dalam literatur-literatur ekologi di Amerika,Eropa dan Rusia. Ekosistem adalah unit fungsional dasar dalam ekologi yang didalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan lingkungan abiotic) dan antara keduanya saling mempengaruhi. Ekosistem dikatakan sebagai unit fungsional dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen secara lengkap,memiliki relung ekologi secara lengkap,serta terdapat proses ekologi secara lengkap sehingga didalam siklus materi dan arus materi terjadi sesuai dengan kondisi ekosistemnya (Odum dalam Indriyanto, 2008).
Adapun menurut Irwan (2003) ekosistem merupakan tingkat organisme yang lebih tinggi daripada komunitas, atau merupakan komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan. Disini tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan dan hewan saja, tetapi juga segala macam bentuk materi yang malakukan siklus dalam sisten itu seta energi yang menjadi sumber kekuatan. Untuk mendapatkan energi dan materi yang diperlukan untuk hidupnya semua komunitas bergantung kepada lingkungan abiotik. Organisme produsen memerlukan energi, cahaya, oksigen, air, dan garam- garam yang semuanya diambil dari lingkungan abiotik. Energi dan materi dari konsumen tingkat pertama diteruskan ke konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke konsumen- konsumen lainnya melalui jaring- jaring makanan.
           
1.1.2        Definisi Hutan
Hutan adalah suatu wilayah yang memliliki banyak tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan, rumput, jamur dan lain sebaginya serta menempati daerah yang cukup luas. Negara kita Indonesia memliki kawasan hutan yang sangat luas dan beranekaragam jenisnya dengan tingkat kerusakan yang cukup tinggi akibat pembakaran hutan, penebangan liar, dan lain sebagainya.
Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu dibentuk atau disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling mempengaruhi dan saling bergantung. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diperhatikan beberapa definisi tentang hutan sebagai berikut.
1)     Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999).
2)  Hutan adalah lapangan yang ditumbuhi pepohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem (Kadri dkk., 1992).
3)     Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan (Soerianegara dan Indrawan, 1982).
4)        Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan dinamis (Arief, 1994).
Hutan dapat dibedakan sebagai hutan dengan permudaan alami, permudaan buatan dan permudaan campuran. Hutan dengan permudaan alami berarti bunga pohon diserbuk dan biji pohon tersebar bukan oleh manusia, melainkan oleh angin, air atau hewan. Hutan dengan permudaan buatan berarti manusia sengaja menyerbukkan bunga serta menyebar biji untuk menumbuhkan kembali hutan. Hutan dengan permudaan campuran berarti campuran kedua jenis sebelumnya. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal sebagai penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.

1.1.3        Definisi Hutan Dataran Rendah
Dataran rendah adalah tanah yang keadaanya relative datar dan luas tanpa ketinggian sekitar 200 m dari permukaan laut. Tanah ini biasanya disekitar pantai, tetapi ada juga yang terletak di pedalaman. Di Indonesia banyak dijumpai dataran rendah, misalnya pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa Barat, pantai selatan Kalimantan, Irian Jaya bagian barat, dan lain-lain. Dataran rendah terjadi akibat proses sedimentasi. Di Indonesia dataran rendah umumnya hasil sedimentasi sungai. Dataran rendah ini disebut dataran alluvial. Dataran alluvial biasanya berhadapan dengan pantai landai laut dangkal. Dataran ini biasanya tanahnya subur, sehingga penduduknya lebih padat bila dibandingkan dengan daerah pegunungan. Dataran rendah mempunyai tekanan udara lebh tinggi sedangkan pegunungan, tekanan udaranya lebih rendah. Perpindahan udara terjadi dari tekanan udara yang tinggi ke rendah (Anonymous,2009).
Dataran rendah adalah hamparan luas tanah dengan tingkat ketinggian yang diukur dari permukaan laut adalah relatif rendah (sampai dengan 200 m) istilah ini diterapkan pada kawasan manapun dengan hamparan yang luas dan relatif datar yang berlawanan dengan dataran tinggi. Suhu udara didataran rendah, khususnya untuk wilayah Indonesia berkisar antara 23o C sampai dengan sepanjang tahun. Hutan dataran rendah merupakan hutan yang tumbuh didaerah dataran rendah dengan ketinggian 0 -120 m. (Wikipedia, 2012).
Hutan yang terdapat pada dataran rendah dan bukit-bukit dengan ketinggian 600 m di atas permukaan laut merupakan tipe vegetasi terkaya di daerah ekoatorial. Hutan ini mempunyai tajuk yang tinggi berlapis-lapis dan terdapat banyak strata di dalamnya, dan merupakan keanekaragaman (diversitas) sangat tinggi, kompleks dan paling menarik. Itulah sebabnya mengapa hutan didaerah tropik terutama hutan dataran rendah, telah banyak menarik perhatian dan pemikiran para ahli.

1.1.4        Karakteristik Hutan Dataran Rendah
Hutan dataran rendah ini didominasi oleh pepohonan besar yang membentuk tajuk berlapis-lapis (layering), sekurang-kurangnya tinggi tajuk teratas rata-rata adalah 45 m (paling tinggi dibandingkan rata-rata hutan lainnya), rapat, dan hijau sepanjang tahun.
Ada tiga lapisan tajuk atas di hutan ini:
·           Lapisan pohon-pohon yang lebih tinggi, muncul di sana-sini dan menonjol di atas atap tajuk (kanopi hutan) sehingga dikenal sebagai “sembulan” (emergent). Sembulan ini bisa sendiri-sendiri atau kadang-kadang menggerombol, namun tak banyak. Pohon-pohon tertinggi ini bisa memiliki batang bebas cabang lebih dari 30 m, dan dengan lingkar batang hingga 4,5 m.
·           Lapisan kanopi hutan rata-rata, yang tingginya antara 24–36 m.
·           Lapisan tajuk bawah, yang tidak selalu menyambung. Lapisan ini tersusun oleh pohon-pohon muda, pohon-pohon yang tertekan pertumbuhannya, atau jenis-jenis pohon yang tahan naungan.
Kanopi hutan banyak mendukung kehidupan lainnya, semisal berbagai jenis epifit (termasuk anggrek), bromeliad, lumut, serta lumut kerak, yang hidup melekat di cabang dan rerantingan. Tajuk atas ini demikian padat dan rapat, membawa konsekuensi bagi kehidupan di lapis bawahnya. Tetumbuhan di lapis bawah umumnya terbatas keberadaannya oleh sebab kurangnya cahaya matahari yang bisa mencapai lantai hutan, sehingga orang dan hewan cukup leluasa berjalan di dasar hutan.
Ada dua lapisan tajuk lagi di aras lantai hutan, yakni lapisan semak dan lapisan vegetasi penutup tanah. Lantai hutan sangat kurang cahaya, sehingga hanya jenis-jenis tumbuhan yang toleran terhadap naungan yang bertahan hidup di sini; di samping jenis-jenis pemanjat (liana) yang melilit batang atau mengait cabang untuk mencapai atap tajuk. Akan tetapi kehidupan yang tidak begitu memerlukan cahaya, seperti halnya aneka kapang dan organisme pengurai (dekomposer) lainnya tumbuh berlimpah ruah. Dedaunan, buah-buahan, ranting, dan bahkan batang kayu yang rebah, segera menjadi busuk diuraikan oleh aneka organisme tadi. Pemakan semut raksasa juga hidup di sini.
Pada saat-saat tertentu ketika tajuk tersibak atau terbuka karena sesuatu sebab (pohon yang tumbang, misalnya), lantai hutan yang kini kaya sinar matahari segera diinvasi oleh berbagai jenis terna, semak dan anakan pohon; membentuk sejenis rimba yang rapat.
Flora : Keanekaragaman jenis Tahura SSH sangat mewakili suatu kondisi hutan dengan tipe hutan hujan dataran rendah. Tercatat + 127 jenis flora yang merupakan tumbuhan asli hutan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim yang didominasi dari family Dipterocarpaceae, Lauraceae, Euphorpeaceae, Anacardiaceae, Guttiferae, Sapotaceae, Myrtaceae dll.
Bahkan beberapa jenis yang saat ini sudah sulit dijumpai, sebagai akibat pembalakan liar yang marak terjadi di Provinsi Riau.Di hutan Tahura SSH masih dapat dijumpai seperti jenis Meranti, Keruing, Kulim dengan ukuran diameter kayu yang sangat besar bahkan beberapa jenis dapat dijumpai dengan ukuran diameter lebih dari 1 meter. Selain jenis asli juga terdapat beberapa jenis yang didatangkan dari luar sebagai koleksi jenis diantaranya Gaharu, Matoa serta beberapa jenis tanaman buah seperti Tampui, Lengkeng, Kedondong, Rambutan dan Durian Montong.
Sebagai wujud pengembangan keanekaragaman jenis, pihak UPT Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim telah melakukan inventarisasi jenis pohon guna dijadikan sebagai tegakan sumber benih serta berencana akan menambah beberapa jenis koleksi tumbuhan seperti Jelutung, Ramin, Bulian (Ulin) dll.
Fauna : Selain keanekaragaman jenis flora, Kawasan Tahura SSH juga memiliki keanekaragaman jenis fauna yang cukup tinggi. Sedikitnya dapat dijumpai 42 jenis burung, 4 jenis reptilia dan 16 jenis mamalia.
Di antara 42 jenis burung terdapat satu jenis burung yang hanya ada di Sumatera yaitu burung Serindit Melayu (Loriculus galgulus), sedangkan jenis burung lain yang dapat dijumpai diantaranya jenis burung Elang (Halicetus sp), Enggang (Buceros rhinoceros), Beo (Gracul refiigiosa), dll. Jenis-jenis reptilia antara lain : Ular (Sanca sp), Biawak (Salvator sp), Tokek, bunglon terbang dll.
Jenis mamalia antara lain : Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis), Harimau Loreng Sumatera (Panthera tigris sumantrensis), Babi Hutan (Sus scrofa), Ungko (Hylobates agifis), Beruk (Macaca nemestrina), Siamang (Symphalangus syndactylus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kijang (Muntiacus muntjak), Landak (Hystrix brachyura) dll

1.1.5        Fungsi Hutan Dataran Rendah
Fungsi hutan bagi manusia dan lingkungan:
1)        Hutan memiliki banyak manfaat untuk kita semua. Hutan merupakan paru-paru dunia (planet bumi) sehingga perlu kita jaga karena jika tidak maka hanya akan membawa dampak yang buruk untuk kita dimasa kini dan masa yang akan datang.
2)        Mencegah erosi dan tanah longsor.
Akar-akar pohon berfungsi sebagai pengikat butiran-butiran tanah. Dengan ada hutan, air hujan tidak langsung jatuh ke permukaan tanah tetapi jatuh ke permukaan daun atau terserap masuk ke dalam tanah.
3)    Menyimpan, mengatur, dan menjaga persediaan dan keseimbangan air di musim hujan dan musim kemarau.
4)        Menyuburkan tanah, karena daun-daun yang gugur akan terurai menjadi tanah humus.
5)        Sebagai sumber ekonomi.
Hutan dapat dimanfaatkan hasilnya sebagai bahan mentah atau bahan baku untuk industri atau bahan bangunan. Sebagai contoh, rotan, karet, getah perca yang dimanfaatkan untuk industri kerajinan dan bahan bangunan.
6)  Sebagai sumber plasma nutfah keanekaragaman ekosistem di hutan memungkinkan untuk berkembangnya keanekaragaman hayati genetika.
7)        Mengurangi polusi untuk pencemaran udara.
Tumbuhan mampu menterap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh makhluk hidup.
Faktor yang mempengaruhi persebaran hutan:
Adanya perbedaan jenis tumbuhan di permukaan bumi dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran hutan antara lain:
1)        Iklim
Iklim dengan unsur-unsurnya, seperti suhu udara, tekanan udara, kelambapan udara, angin dan curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perseberan tumbuhan (flora) di permukaan bumi. Hutan hujan tropis merupakan hutan yang banyak dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi.
2)        Keadaan tanah
Perbedaaan jenis tanah, seperti pasir, aluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang terkandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir.
3)        Tinggi Rendah Permukaan Bumi (relief)
 Permukaan bumi terdiri dari berbagai macam relief , seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Perbedaan tinggi-rendah permukaan bumi mengakibatkan variasi suhu udara. Variasi suhu udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan (flora). Hutan yang terdapat di daerah pegunungan banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat.
4)        Makhluk Hidup (Biotik)
Makhluk hidup seperti manusia dan hewan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan (flora). Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia.

1.2         Sejarah terbentuknya Taman Hutan Raya Sultan Syarif  Hasyim
1.2.1        Dasar Hukum
Sejak tahun 1985, Taman Hutan Raya telah dirintis pembentukannya dengan  melakukan  persiapan  pembuatan Hutan wisata. Melalui Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tk. I Riau Nomor : 367/IV/1985 tanggal 24 April 1985 ditetapkan Hutan Wisata seluas 1.000 Ha di daerah Minas. Selanjutnya dengan dana APBD dan IHH telah dilakukan pembuatan sarana wisata dan beberapa sarana penunjang menuju terbentuknya Taman Hutan Raya. Sejak tahun 1986 Gubernur Kepala Daerah Tk. I Riau telah mengupayakan pengukuhan kawasan menjadi seluas 5.000 Ha dan bahkan lebih luas lagi menjadi 40.000 Ha, namun akibat adanya kepentingan pemakaian dan tumpang tindih areal, maka hal tersebut belum dapat diwujudkan.
Akhirnya Setelah dikeluarkannya beberapa kepentingan dari beberapa pihak di dalam kawasan, barulah terwujud luasan Taman Hutan Raya menjadi 5.920 Ha dan pada tanggal 16 Agustus 1994 Kepala Daerah Tingkat I Riau merekomendasikannya kepada Menteri Kehutanan untuk ditetapkan menjadi Tahura. Rekomendasi dimaksud ditindaklanjuti oleh Menteri Kehutanan dengan Surat Keputusan No. 349/Kpts-II/1996 tanggal 5 Juli 1996, bahwa Kelompok Hutan Takuana Minas, ditunjuk sebagai Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim seluas 5.920 Ha. Setelah dilakukan tata batas, Menteri Kehutanan dan Perkebunan menetapkannya menjadi Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim dengan SK No. 348/Kpts-II/1999 tanggal 26 Mei 1999 seluas 6.172 Ha. Selanjutnya atas sumbang saran dari tokoh-tokoh budayawan, sejarawan, pemuka masyarakat dan Pemerintah Provinsi Riau, maka ditetapkanlah Taman Hutan Raya dengan nama Tahura Sultan Syarif Hasyim (TAHURA SSH).

1.2.2        Pemberian Nama Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim
Nama Kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim diambil dari nama ayahanda Sultan Syarif Qasim yang dikenal sebagai pahlawan nasional asal Riau. Penggunaan nama ini untuk mengabadikan jasa pahlawan yang diharapkan semangat dan nasionalisme kepahlawanannya menjadi teladan bagi generasi sesudahnya. Sebagai generasi muda penerus perjuangan para pahlawan yang telah rela berjuang mempertahankan bangsa dan negara, maka perlu dibuktikan dengan turut menjaga warisan para pejuang yang dititipkan kepada kita semua. Untuk itu mari kita jaga dan lestarikan Tahura SSH sebagai salah satu warisan para pahlawan untuk kejayaan negara di masa depan.

1.3         Tujuan dan Aksebilitas dibentuknya Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim
Tujuan ditetapkan kawasan Tahura SSH serta dibentuknya UPT Tahura SSH adalah untuk mengoptimalkan kawasan Tahura SSH sebagai kawasan pelestarian alam guna untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya serta menjadi icon wisata alam Provinsi Riau dan menjadi salah datu objek pariwisata kebanggaan masyrakat Provinsi Riau sehingga menjadi salah satu tujuan wisata alam parawisatawan domestic amupun asing.
Kawasan Tahura SSH merupakan lokasi wisata yang sangat strategis dekat dengan Ibu Kota Provinsi. Untuk mencapai kawasan Tahura SSH tidak terlalu sulit Karena melewati jalan lintas Provinsi hingga mencapai pintu gerbang masuk kawasan. Jarak tempuh untuk mencapai kawasan Tahura SSH bila melalui Kota Pekanbaru dan dilanjutkan menempuh rute Pekanbaru-Minas diperkirakan berjarak 23 Km dari Kota Pekanbaru dengan waktu tempuh perjalanan ± 30 menit.

1.4         Lokasi Penelitian Ekosistem Hutan Kabupaten Minas Kabupaten Siak
Secara administratif, lokasi Tahura SSH Provinsi Riau berada di Kecamatan Minas Kabupaten Siak seluas 767,81 ha (12,44%); Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar seluas 2.323,33 ha (37,64%); dan Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru seluas 3.080,86 ha (49,92%). Lokasi kawasan taman hutan raya ini berada di jalan lintas antara Pekanbaru menuju Dumai, dimana pintu gerbangnya berada pada Km 20 yang dapat dicapai kurang lebih 15 menit dari Pekanbaru.
Secara geografis, kawasan ini terletak pada koordinat 0037’ LU – 0044’ LU dan 101020’ BT - 101028’ BT. Adapun luas kawasan sesuai dengan keputusan Menteri Kehutanan No. 349/Kpts-II/1996 tanggal 5 Juli 1996 adalah sebesar 5.920 ha dan ditetapkan dengan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 348/Kpts-II.1999 tanggal 26 Mei 1999 dengan luas 6.172 ha setelah dilakukan pengukuran dan penataan batas kawasan.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Komponen  Abiotik dan Biotik Ekosistem Hutan Campuran Dataran Rendah
1.        Komponen Abiotik
Abiotik adalah bukan makhluk hidup atau komponen tak hidup. Komponen abiotik merupakan komponen fisik dan kimia yang membentuk lingkungan abiotik. Lingkungan abiotik membentuk ciri fisik dan kimia tempat hidup makhluk hidup. Contoh komponen abiotik antara lain suhu, cahaya, air, kelembapan, udara, garam-garam mineral, dan tang. Komponen ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi sehingga mempengaruhi sifat yang satu dengan sifat yang lain.

Suhu
Suhu atau temperatur adalah derajat energi panas. Sumber utama energi panas adalah radiasi matahari. Suhu merupakan komponen abiotik di udara, tanah dan air. Suhu sangat diperlukan oleh setiap  makhluk hidup, berkaitan dengan reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup memerlukan enzim. Kerja suatu enzim dipengaruhi oleh suhu tertentu. Suhu juga mempengaruhi perkembangbiakan makhluk hidup. Contohnya, beberapa burung melakukan migrasi menuju ke daerah yang suhunya sesuai untuk berkembang biak.
Suhu dapat berperan langsung hampir pada setiap fungsi dari tumbuhan dengan mengontrol laju proses-proses kimia dalam tumbuhan tersebut, sedangkan berperan tidak langsung dengan mempengaruhi faktor-faktor lainnya terutama suplai air. Suhu akan mempengaruhi laju evaporasi dan meyebabkan tidak saja keefektifan hujan tetapi juga laju kehilangan air dari organisme.



Cahaya
Cahaya merupakan salah satu energi yang bersumber dari radiasi matahari. Cahaya matahari terdiri dari beberapa macam panjang gelombang, intensitas cahaya, dan lama penyinaran cahaya matahari berperan dalam kehidupan organisme. Misalnya tumbuhan memerlukan cahaya matahari dengan panjang gelombang tertentu untuk proses fotosintesis. Cahaya matahari merupakan sumber utama kehidupan. Tanpa adanya cahaya matahari tanaman tidak dapat melakukan fotosintesis, sehingga rantai makanan akan terputus karena konsumen tidak bisa mendapatkan sumber makanan utama. 

 
Gambar 1. Cahaya matahari yang dipancarkan ketumbuh-tumbuhan(Arsip 6E, 2014)

Air
Air terdiri dari molekul-molekul H2O. Air dapat berbentuk padat, cair dan gas. Di alam, air dapat berbentuk padat, misalnya es dan kristal es (salju), serta berbentuk gas berupa uap air. Dalam kehidupan, air sangat diperlukan oleh makhluk hidup, karena sebagian besar tubuhnya mengandung air. Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan. Dalam ekosistem dataran rendah, air berperan dalam memberikan nutrisi terlarut dalam bentuk cairan yang diserap oleh makhluk hidup. Semua komponen biotik yang ada di dataran rendah tidak akan dapat hidup tanpa mengkonsumsi air, karena sebagian besar penyusun tubuh makhluk hidup adalah air. Oleh karenanya air memiliki fungsi yang sangat penting.

Kelembaban
            Kelembaban merupakan salah satu komponen abiotik di udara dan tanah. Kelembaban di udara berarti kandungan uap air di udara, sedangkan kelembaban di tanah berarti kandungan air dalam tanah. Kelembaban diperlukan oleh makhluk hidup agar tubuhnya tidak cepat kering karena penguapan. Kelembaban yang di perlukan setiap makhluk hidup berbeda-beda. Sebagai contoh, jamur dan cacing memerlukan habitat yang sangat lembab.
Tanah
Meskipun tanah merupakan komponen abiotic, namun peranannya sangat penting bagi ekosistem dataran rendah karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. 
 
1.        Komponen biotik
Menurut Elfis (2010), komponen biotik ialah faktor yangmeliputi semua mahluk hidup berdasarkan fungsinya,  komponen Biotik dibedakan atas:
Produsen
            Produsen merupakan organisme yang mampu membentuk makananya sendiri dari zat-zat organik melalui proses fotosintesa dan klorofil. Contoh: tumbuhan hijau (padi).
Konsumen
            Konsumen adalah sekelompok makhluk hidup yang memakan produsen dan hewan lainnya. Kelompok ini tidak mampu membuat makanannya sendiri dari bahan anorganik. Contoh: belalang, burung, siput dan lain-lain.
Pengurai  (Dekomposer)
            Pengurai merupakan organisme yang menguraikan sisa-sisa makhluk hidup lainnya yang telah mati menjadi zat-zat anorganiksebagai bahan makanannya. Organisme pengurai adalah bakteri dan jamur.
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan pada tanggal 18 Mei 2014 di Kabupaten Siak, Minas Kota Pekanbaru kami mnegamati komponen biotik penyusun hutan campuran adalah:
Daftar komponen Biotik (Tumbuhan dan Hewan)
Tabel 1. Tumbuhan Biotik Penyusun Hutan Campuran (Arsip 6E,2014)
No
NAMA BOTANIS
NAMA DAERAH
SUKU
1
Alseodaphne sp
Medang
Lauraceae
2
Artocarpus elasticus
Terap
Moraceae
3
Artocarpus integra
Cempedak
Moraceae
4
Baringtonia racemosa
Putat
Lechytidaceae
5
Bouea burmanica
Raman
Anacardiaceae
6
Carallia sp
Pisang- pisang
Rhyzoporaceae
7
Castanopsis acuminatisima
Berangan
Fagaceae
8
Dacryodes rostata
Kedondong hutan
Burseraceae
9
Dillenia reticulata
Simpur
Dilleniaceae
10
Dipterocarpus crintus
Keruing
Dipterocarpaceae
11
Endospermum malaccensis
Sendok- sendok
Euphorbiaceae
12
Garcinea syzygifolia
Asam kandis
Guttiferae
13
Geronniera subaecualis
Siluk
Ulmaceae
14
Hopea mengarawan
Merawan
Dipterocarpaceae
15
Horsfieldia grandis
Mendarahan
Myristicaceae
16
Ixonanthes icosandra
Pagar - pagar
Linaceae
17
Kibatalia borneensis
Pulai
Apocynaceae
18
Melanorhoea walichii
Rengas
Anacardiaceae
19
Myristica iners
Mendarahan
Myristicaceae
20
Ochanostachys arnentacea
Petatal
Olacaceae
21
Palaquium hexandrum
Balam putih
Sapotaceae
22
Santiria graffiti
Lalan
Burseraceae
23
Scorodocarpus borneensis
Kulim
Olacaceae
24
Shorea leprosula
Meranti pirang
Dipterocarpaceae
25
Sindora walichii
Tamparan hantu
Leguminosae
26
Sloetia elongata
Tempinis
Moraceae
27
Syzygium sp
Kelat
Myrtaceae
28
Arthocarpus kemandu
Cempedak air
Moraceae
29
Archidendron bubalinum
Kabau
Leguminoceae
30
Elueocarpus ferrugincus jack
Bengkinang
Elaecarpaceae
31
Polyalthia glauca
Banitan
Annonaceae
32
Artocarpus rigidus  blume
Tempunik
Moraceae
33
Bacaurea sp
Tampul
Euphorbiaceae
34
Durio carinatus
Durian hutan
Bomacaceae
35
Eudia glabra blume
Tenggek burung
Rutaceae
36
Porterandia anisophylla
Tengkuli tupai
Rubiaceae

Tabel 2. Hewan (biotik) Penyusun Ekosistem hutan Campuran (Arsip 6E,2014)
NO
NAMA HEWAN
NAMA ILMIAH
1
Serangga
Dolichoderus sp
2
Keong
Mendominasi
3
Katak
Ranae
4
Tikus
Mut
5
Ulat
Caterpillar 
6
Burung Elang
Aqila
7
Pelatuk Sayap Merah
Picus puniceus
8
Semut hitam
Dolichoderus sp
9
Tupai
Tupaia japanica
10
Ular
Python retculatus
11
Kupu –kupu
Appias libythea
12
Tokek
Gekko gecko
13
Biawak
Varanus albigularis
14
Monyet
Macaca fascicularis
15
Kura – kura
Cuora amboinensis
16
Rayap
Isoptera
17
Capung
Neurothemis sp
18
Nyamuk
Culicidae
19
Babi Hutan
Susscofa
20
Beruang Madu
Helarctos Malayanus
21
Lalat
Hermetia illucens

2.1         Klimatologis dan Edaphis Ekosistem Hutan Dataran Rendah
2.2.1  Klimatologis Ekosistem Hutan Dataran Rendah
   Klimatologis berasal dari bahasa Yunani klima dan logos yang masing-masing berarti kemiringan (slope) yang diarahkan ke lintang tempat sedangkan logos sendiri berarti ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda, dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan interpretasi dari data-data yang banyak sehingga memerlukan statistic dalam pengerjaannya, sering juga klimatologi disebut sebagai meteorology statistic (Tjasyono,2004).
Iklim merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi tanaman. Jenis-jenis dan sifat-sifat iklim bisa menentukan jenis tanaman yang tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian klimatologi dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan semakin berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim, membuat sector pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim hujan membuat para petani begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan masa panen. Utnuk daerah tropis seperti Indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian. Komponen-komponen klimatologis adalah sebagai berikut:
1)      Radiasi Matahari
Radiasi matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di matahri. Energi radiasi matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spectrum radiasi matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah (Wikipedia,2013).
Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor antara lain:
a.         Jarak matahari
Setiap perubahan jarak bumi dan matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan enerhi matahari.
b.        Intensitas radiasi matahari
Yaitu besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosfer yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus.
c.         Panjang penyinaran matahari (sun duration)
Yaitu jarak dan lamanya antara matahari terbit dan matahari terbenam.
d.        Pengaruh atmosfer
Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diabsorbsi oleh gasi-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi.


DATA KLIMATOLOGIS UNTUK
EKOSISTEM HUTAN CAMPUR DATARAN RENDAH 
Hutan Campur Dataran Rendah di Tahura Sultan Syarif Qasim
Kecamatan Minas Kabupaten Siak Propinsi Riau
PENGUKURAN IKLIM PERIODE APRIL-DESEMBER 2013
JANUARI –MARET 2014
(Berdasaran rekapitulasi data klimatologis sekunder dari
Stasiun Mini MeteorologiDinas Pertanian Kabupaten Siak )

A. Rata-rata intensitas radiasi matahari (Watt/m2)

No
Bulan
Radiasi harian (Watt/m2/menit)
9.00
10.00
11.00
12.00
13.00
14.00
15.00
1.
April
103,9522
103,3915
103,3522
102,0316
103,6935
103,0290
103,0290
2.
Mei
142,0522
142,6222
142,2296
102,2292
142,2322
142,0220
142,0220
3.
Juni
110,2032
163,0222
110,3122
103,2251
103,9223
102,9321
102,9321
4.
Juli
103,9621
1036621
103,5321
132,2226
102,2225
103,2223
103,2223
5.
Agustus
102,9660
103,9922
103,0150
102,1052
103,3105
103,0222
103,0222
6.
September
102,2252
102,2322
103,6623
100,5391
103,2222
102,6622
102,6622
7.
Oktober
102,2662
102,9921
103,0222
102,6225
102,9920
103,6692
103,6692
8.
November
102,6666
102,2251
103,6692
103,9210
103,6623
103,9635
103,9635
9.
Desember
102,9660
103,9922
103,0150
102,1052
103,3105
103,0222
103,0222
10.
Januari
102,2252
102,2322
103,6623
100,5391
103,2222
102,6622
102,6622
11.
Februari
102,2662
102,9921
103,0222
102,6225
102,9920
103,6692
103,6692
12.
Maret
102,6666
102,2251
103,6692
103,9210
103,6623
103,9635
103,9635


1)        Suhu
Suhu udara adalah ukuran energi kinetic rata-rata dari pergerakkan molekul-molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda-benda lain atau menerima panas dari benda-benda lain tersebut. Dalam sistem dua benda, benda yang kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu tinggi (Stamet,2009). Temperature udara adalah tingkat atau derajat panas dari kegiatan molekul dalam atmosfer yang dinyatakan dengan skala Celcius, Fahreinheit, atau skala Reamur. Perlu diketahui bahwa suhu udara antara daerah satu dengan daerah lain sangat berbeda.