DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... .... i
DAFTAR
ISI........................................................................................................ .... ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1 Pengertian
ekosistem hutan dataran rendah
1.1.1
Definisi ekosistem.............................................................................. ................. 1
1.1.2
Definisi hutan..................................................................................... ................. 2
1.1.3
Definisi hutan dataran
rendah............................................................ ................. 3
1.1.4
Karakteristik hutan
dataran rendah.................................................... ................. 4
1.1.5
Fungsi hutan dataran
rendah.............................................................. ................. 6
1.2 Sejarah
terbentuknya taman hutan raya sultan syarif hasyim
1.2.1
Dasar hukum................................................................................................... .... 8
1.2.2
Pemberian nama taman
hutan raya sultan syarif hasyim................... .. .. 9
1.3 Tujuan
dan aksebilitas dibentuknya taman hutan raya sultan syarif hasyim........ 9
1.4 lokasi penelitian ekosisitem hutan dataran
rendah tahura ssh....................... .... 10
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komponen abiotik dan biotik ekosistem hutan
campuran dataran rendah......... 11
2.2.
Klimatologis dan edaphis ekosistem hutan dataran rendah
2.2.1
Klimatologi ekosistem hutan dataran rendah ...................................... .... 17
2.2.2
Edaphis ekosistem hutan dataran rendah.................................................. 22
2.3 Pola – pola interaksi ekosistem hutan dataran
rendah
2.3.1 Pola interaksi.............................................................................................. 27
2.3.2 Pola ketergantungan di antara
komponen biotik........................................ 27
2.3.3 Aliran energi dan siklus materi
pada ekosistem hutan dataran rendah. 33
2.4 Analisis vegetasi.................................................................................................. 36
BAB
III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
3.1 Letak,
luas dan batas........................................................................................... 51
3.2 Kondisi
fisik dasar daerah.................................................................................. 51
3.3 Iklim. ................................................................................................................ 52
3.4 Kondisi
tanah
3.4.1 Geologi
dan morfologi............................................................................ 54
3.4.2 Klasifikasi
tanah...................................................................................... 55
3.5 Kondisi hidrologi................................................................................................ 55
3.6 Flora dan fauna................................................................................................... 56
BAB
IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan......................................................................................................... 59
4.2 Saran. ............................................................................................................ .... 59
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................... .... 60
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1
Pengertian
Ekosistem Hutan Dataran Rendah
1.1.1
Definisi
Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk
oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh
dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan
interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran
energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus
materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua
energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang
bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan
beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi
lingkungan fisik untuk keperluan hidup (wikipedia 2010).
Istilah
ekosistem pertama kali diusulkan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan
inggris bernama A.G. Tansley pada tahun 1935. Meskipun tentu saja konsep itu
bukan merupakan konsep yang baru. Terbukti bahwa sebelum akhir tahun
1800-an,pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan
dengan ekosistem mulai terbit dalam literatur-literatur ekologi di
Amerika,Eropa dan Rusia. Ekosistem adalah unit fungsional dasar dalam ekologi yang didalamnya
tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan lingkungan abiotic)
dan antara keduanya saling mempengaruhi. Ekosistem dikatakan sebagai unit fungsional
dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen
secara lengkap,memiliki relung ekologi secara lengkap,serta terdapat proses
ekologi secara lengkap sehingga didalam siklus materi dan arus materi terjadi
sesuai dengan kondisi ekosistemnya (Odum dalam
Indriyanto, 2008).
Adapun menurut Irwan (2003)
ekosistem merupakan tingkat organisme yang lebih tinggi daripada komunitas,
atau merupakan komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi antar hubungan.
Disini tidak hanya mencakup serangkaian spesies tumbuhan dan hewan saja, tetapi
juga segala macam bentuk materi yang malakukan siklus dalam sisten itu seta
energi yang menjadi sumber kekuatan. Untuk mendapatkan energi dan materi yang
diperlukan untuk hidupnya semua komunitas bergantung kepada lingkungan abiotik.
Organisme produsen memerlukan energi, cahaya, oksigen, air, dan garam- garam
yang semuanya diambil dari lingkungan abiotik. Energi dan materi dari konsumen
tingkat pertama diteruskan ke konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke
konsumen- konsumen lainnya melalui jaring- jaring makanan.
1.1.2
Definisi
Hutan
Hutan adalah suatu wilayah yang memliliki banyak
tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan,
rumput, jamur dan lain sebaginya serta menempati daerah yang cukup luas. Negara
kita Indonesia memliki kawasan hutan yang sangat luas dan beranekaragam
jenisnya dengan tingkat kerusakan yang cukup tinggi akibat pembakaran hutan,
penebangan liar, dan lain sebagainya.
Hutan
dipandang sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu
dibentuk atau disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak
bisa berdiri sendiri, tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling mempengaruhi
dan saling bergantung. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diperhatikan
beberapa definisi tentang hutan sebagai berikut.
1) Hutan adalah kesatuan
ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi
pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak
dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999).
2) Hutan adalah lapangan
yang ditumbuhi pepohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup
alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem (Kadri dkk., 1992).
3) Hutan adalah masyarakat
tumbuh-tumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai
keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan (Soerianegara dan
Indrawan, 1982).
4)
Hutan adalah masyarakat
tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di permukaan tanah
dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang
berada dalam keseimbangan dinamis (Arief, 1994).
Hutan dapat dibedakan sebagai hutan dengan permudaan
alami, permudaan buatan dan permudaan campuran. Hutan dengan permudaan alami
berarti bunga pohon diserbuk dan biji pohon tersebar bukan oleh manusia,
melainkan oleh angin, air atau hewan. Hutan dengan permudaan buatan berarti
manusia sengaja menyerbukkan bunga serta menyebar biji untuk menumbuhkan
kembali hutan. Hutan dengan permudaan campuran berarti campuran kedua jenis sebelumnya. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat
berperan dalam berbagai hal sebagai penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna dan
peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global.
Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan
yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya
berjuta tanaman.
1.1.3
Definisi
Hutan Dataran Rendah
Dataran
rendah adalah tanah yang keadaanya relative datar dan luas tanpa ketinggian
sekitar 200 m dari permukaan laut. Tanah ini biasanya disekitar pantai, tetapi ada juga yang terletak di
pedalaman. Di Indonesia banyak dijumpai dataran rendah, misalnya pantai timur
Sumatera, pantai utara Jawa Barat, pantai selatan Kalimantan, Irian Jaya bagian
barat, dan lain-lain. Dataran rendah terjadi akibat proses sedimentasi. Di
Indonesia dataran rendah umumnya hasil sedimentasi sungai. Dataran rendah ini
disebut dataran alluvial. Dataran alluvial biasanya berhadapan dengan pantai
landai laut dangkal. Dataran ini biasanya tanahnya subur, sehingga penduduknya
lebih padat bila dibandingkan dengan daerah pegunungan.
Dataran rendah mempunyai tekanan udara lebh tinggi
sedangkan pegunungan, tekanan udaranya lebih rendah. Perpindahan udara terjadi
dari tekanan udara yang tinggi ke rendah (Anonymous,2009).
Dataran rendah
adalah hamparan luas tanah dengan tingkat ketinggian yang diukur dari permukaan
laut adalah relatif rendah (sampai dengan 200 m) istilah ini diterapkan pada
kawasan manapun dengan hamparan yang luas dan relatif datar yang berlawanan
dengan dataran tinggi. Suhu udara didataran rendah, khususnya untuk wilayah
Indonesia berkisar antara 23o C sampai dengan sepanjang tahun. Hutan
dataran rendah merupakan hutan yang tumbuh didaerah dataran rendah dengan
ketinggian 0 -120 m. (Wikipedia, 2012).
Hutan
yang terdapat pada dataran rendah dan bukit-bukit dengan ketinggian 600 m di
atas permukaan laut merupakan tipe vegetasi terkaya di daerah ekoatorial. Hutan
ini mempunyai tajuk yang tinggi berlapis-lapis dan terdapat banyak strata di
dalamnya, dan merupakan keanekaragaman (diversitas) sangat tinggi, kompleks dan
paling menarik. Itulah sebabnya mengapa hutan didaerah tropik terutama hutan
dataran rendah, telah banyak menarik perhatian dan pemikiran para ahli.
1.1.4
Karakteristik
Hutan Dataran Rendah
Hutan dataran rendah ini didominasi oleh pepohonan besar yang membentuk
tajuk berlapis-lapis (layering), sekurang-kurangnya tinggi tajuk teratas
rata-rata adalah 45 m (paling tinggi dibandingkan rata-rata hutan lainnya),
rapat, dan hijau sepanjang tahun.
Ada
tiga lapisan tajuk atas di hutan ini:
·
Lapisan pohon-pohon yang lebih tinggi, muncul di sana-sini
dan menonjol di atas atap tajuk (kanopi hutan) sehingga dikenal sebagai
“sembulan” (emergent). Sembulan ini bisa sendiri-sendiri atau
kadang-kadang menggerombol, namun tak banyak. Pohon-pohon tertinggi ini bisa
memiliki batang bebas cabang lebih dari 30 m, dan dengan lingkar batang hingga
4,5 m.
·
Lapisan kanopi hutan rata-rata, yang tingginya antara 24–36
m.
·
Lapisan tajuk bawah, yang tidak selalu menyambung. Lapisan
ini tersusun oleh pohon-pohon muda, pohon-pohon yang tertekan pertumbuhannya,
atau jenis-jenis pohon yang tahan naungan.
Kanopi hutan banyak mendukung kehidupan lainnya, semisal
berbagai jenis epifit (termasuk anggrek), bromeliad, lumut, serta lumut kerak, yang hidup melekat di cabang dan
rerantingan. Tajuk atas ini demikian padat dan rapat, membawa konsekuensi bagi
kehidupan di lapis bawahnya. Tetumbuhan di lapis bawah umumnya terbatas
keberadaannya oleh sebab kurangnya cahaya matahari yang bisa mencapai lantai
hutan, sehingga orang dan hewan cukup leluasa berjalan di dasar hutan.
Ada dua lapisan tajuk lagi di aras lantai hutan, yakni
lapisan semak dan lapisan vegetasi penutup tanah. Lantai hutan sangat kurang
cahaya, sehingga hanya jenis-jenis tumbuhan yang toleran terhadap naungan yang
bertahan hidup di sini; di samping jenis-jenis pemanjat (liana) yang melilit batang atau mengait
cabang untuk mencapai atap tajuk. Akan tetapi kehidupan yang tidak begitu
memerlukan cahaya, seperti halnya aneka kapang dan organisme pengurai (dekomposer)
lainnya tumbuh berlimpah ruah. Dedaunan, buah-buahan, ranting, dan bahkan
batang kayu yang rebah, segera menjadi busuk diuraikan oleh aneka organisme
tadi. Pemakan
semut raksasa juga hidup di sini.
Pada saat-saat tertentu ketika tajuk tersibak atau terbuka
karena sesuatu sebab (pohon yang tumbang, misalnya), lantai hutan yang kini
kaya sinar matahari segera diinvasi oleh berbagai jenis terna, semak dan anakan
pohon; membentuk sejenis rimba yang rapat.
Flora
: Keanekaragaman
jenis Tahura SSH sangat mewakili suatu kondisi hutan dengan tipe hutan hujan
dataran rendah. Tercatat + 127 jenis flora yang merupakan tumbuhan asli hutan Taman
Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim yang didominasi dari family Dipterocarpaceae,
Lauraceae, Euphorpeaceae, Anacardiaceae, Guttiferae, Sapotaceae, Myrtaceae dll.
Bahkan beberapa jenis yang saat ini sudah sulit dijumpai,
sebagai akibat pembalakan liar yang marak terjadi di Provinsi Riau.Di hutan
Tahura SSH masih dapat dijumpai seperti jenis Meranti, Keruing, Kulim dengan
ukuran diameter kayu yang sangat besar bahkan beberapa jenis dapat dijumpai
dengan ukuran diameter lebih dari 1 meter. Selain jenis asli juga terdapat
beberapa jenis yang didatangkan dari luar sebagai koleksi jenis diantaranya
Gaharu, Matoa serta beberapa jenis tanaman buah seperti Tampui, Lengkeng,
Kedondong, Rambutan dan Durian Montong.
Sebagai wujud pengembangan keanekaragaman jenis, pihak UPT
Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim telah melakukan inventarisasi jenis pohon
guna dijadikan sebagai tegakan sumber benih serta berencana akan menambah
beberapa jenis koleksi tumbuhan seperti Jelutung, Ramin, Bulian (Ulin) dll.
Fauna
: Selain
keanekaragaman jenis flora, Kawasan Tahura SSH juga memiliki keanekaragaman
jenis fauna yang cukup tinggi. Sedikitnya dapat dijumpai 42 jenis burung, 4
jenis reptilia dan 16 jenis mamalia.
Di antara 42 jenis burung terdapat satu jenis burung yang
hanya ada di Sumatera yaitu burung Serindit Melayu (Loriculus galgulus),
sedangkan jenis burung lain yang dapat dijumpai diantaranya jenis burung Elang
(Halicetus sp), Enggang (Buceros rhinoceros), Beo (Gracul refiigiosa), dll.
Jenis-jenis reptilia antara lain : Ular (Sanca sp), Biawak (Salvator sp),
Tokek, bunglon terbang dll.
Jenis mamalia antara lain : Gajah Sumatera (Elephas maximus
sumatrensis), Harimau Loreng Sumatera (Panthera tigris sumantrensis), Babi
Hutan (Sus scrofa), Ungko (Hylobates agifis), Beruk (Macaca nemestrina),
Siamang (Symphalangus syndactylus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kijang
(Muntiacus muntjak), Landak (Hystrix brachyura) dll
1.1.5
Fungsi
Hutan Dataran Rendah
Fungsi
hutan bagi manusia dan lingkungan:
1)
Hutan memiliki
banyak manfaat untuk kita semua. Hutan merupakan paru-paru dunia (planet bumi)
sehingga perlu kita jaga karena jika tidak maka hanya akan membawa dampak yang
buruk untuk kita dimasa kini dan masa yang akan datang.
2)
Mencegah erosi dan
tanah longsor.
Akar-akar pohon
berfungsi sebagai pengikat butiran-butiran tanah. Dengan ada hutan, air hujan
tidak langsung jatuh ke permukaan tanah tetapi jatuh ke permukaan daun atau
terserap masuk ke dalam tanah.
3) Menyimpan, mengatur,
dan menjaga persediaan dan keseimbangan air di musim hujan dan musim kemarau.
4)
Menyuburkan tanah,
karena daun-daun yang gugur akan terurai menjadi tanah humus.
5)
Sebagai sumber ekonomi.
Hutan dapat
dimanfaatkan hasilnya sebagai bahan mentah atau bahan baku untuk industri atau
bahan bangunan. Sebagai contoh, rotan, karet, getah perca yang dimanfaatkan
untuk industri kerajinan dan bahan bangunan.
6) Sebagai sumber plasma
nutfah keanekaragaman ekosistem di hutan memungkinkan untuk berkembangnya
keanekaragaman hayati genetika.
7)
Mengurangi polusi untuk
pencemaran udara.
Tumbuhan mampu menterap
karbon dioksida dan menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh makhluk hidup.
Faktor yang mempengaruhi persebaran hutan:
Adanya perbedaan jenis tumbuhan di permukaan bumi
dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran
hutan antara lain:
1)
Iklim
Iklim dengan unsur-unsurnya, seperti suhu udara, tekanan udara, kelambapan udara, angin dan curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perseberan tumbuhan (flora) di permukaan bumi. Hutan hujan tropis merupakan hutan yang banyak dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi.
Iklim dengan unsur-unsurnya, seperti suhu udara, tekanan udara, kelambapan udara, angin dan curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perseberan tumbuhan (flora) di permukaan bumi. Hutan hujan tropis merupakan hutan yang banyak dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi.
2)
Keadaan tanah
Perbedaaan jenis tanah, seperti pasir, aluvial, dan kapur
serta jumlah zat mineral yang terkandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman
yang tumbuh. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di
daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus
salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan
tanah di gurun pasir.
3)
Tinggi Rendah Permukaan Bumi (relief)
Permukaan bumi terdiri dari berbagai macam relief ,
seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Perbedaan
tinggi-rendah permukaan bumi mengakibatkan variasi suhu udara. Variasi suhu
udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan (flora). Hutan yang terdapat di
daerah pegunungan banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat.
4)
Makhluk Hidup (Biotik)
Makhluk hidup seperti manusia dan hewan memiliki pengaruh
yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan (flora). Terutama manusia dengan
ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan
cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi
oleh faktor biotik, terutama manusia.
1.2
Sejarah
terbentuknya Taman Hutan Raya Sultan Syarif
Hasyim
1.2.1
Dasar
Hukum
Sejak tahun 1985, Taman Hutan Raya
telah dirintis pembentukannya dengan
melakukan persiapan pembuatan Hutan wisata. Melalui Surat Keputusan
Gubernur Kepala Daerah Tk. I Riau Nomor : 367/IV/1985 tanggal 24 April 1985
ditetapkan Hutan Wisata seluas 1.000 Ha di daerah Minas. Selanjutnya dengan
dana APBD dan IHH telah dilakukan pembuatan sarana wisata dan beberapa sarana
penunjang menuju terbentuknya Taman Hutan Raya. Sejak tahun 1986 Gubernur
Kepala Daerah Tk. I Riau telah mengupayakan pengukuhan kawasan menjadi seluas
5.000 Ha dan bahkan lebih luas lagi menjadi 40.000 Ha, namun akibat adanya
kepentingan pemakaian dan tumpang tindih areal, maka hal tersebut belum dapat
diwujudkan.
Akhirnya Setelah dikeluarkannya
beberapa kepentingan dari beberapa pihak di dalam kawasan, barulah terwujud
luasan Taman Hutan Raya menjadi 5.920 Ha dan pada tanggal 16 Agustus 1994
Kepala Daerah Tingkat I Riau merekomendasikannya kepada Menteri Kehutanan untuk
ditetapkan menjadi Tahura. Rekomendasi dimaksud ditindaklanjuti oleh Menteri
Kehutanan dengan Surat Keputusan No. 349/Kpts-II/1996 tanggal 5 Juli 1996,
bahwa Kelompok Hutan Takuana Minas, ditunjuk sebagai Taman Hutan Raya Sultan
Syarif Hasyim seluas 5.920 Ha. Setelah dilakukan tata batas, Menteri Kehutanan
dan Perkebunan menetapkannya menjadi Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim
dengan SK No. 348/Kpts-II/1999 tanggal 26 Mei 1999 seluas 6.172 Ha. Selanjutnya
atas sumbang saran dari tokoh-tokoh budayawan, sejarawan, pemuka masyarakat dan
Pemerintah Provinsi Riau, maka ditetapkanlah Taman Hutan Raya dengan nama
Tahura Sultan Syarif Hasyim (TAHURA SSH).
1.2.2
Pemberian
Nama Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim
Nama Kawasan Taman Hutan Raya Sultan
Syarif Hasyim diambil dari nama ayahanda Sultan Syarif Qasim yang dikenal
sebagai pahlawan nasional asal Riau. Penggunaan nama ini untuk mengabadikan
jasa pahlawan yang diharapkan semangat dan nasionalisme kepahlawanannya menjadi
teladan bagi generasi sesudahnya. Sebagai generasi muda penerus perjuangan para
pahlawan yang telah rela berjuang mempertahankan bangsa dan negara, maka perlu
dibuktikan dengan turut menjaga warisan para pejuang yang dititipkan kepada
kita semua. Untuk itu mari kita jaga dan lestarikan Tahura SSH sebagai salah
satu warisan para pahlawan untuk kejayaan negara di masa depan.
1.3
Tujuan
dan Aksebilitas dibentuknya Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim
Tujuan ditetapkan kawasan Tahura SSH serta dibentuknya
UPT Tahura SSH adalah untuk mengoptimalkan kawasan Tahura SSH sebagai kawasan pelestarian alam guna untuk kepentingan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya serta menjadi icon
wisata alam Provinsi Riau dan menjadi salah datu objek pariwisata kebanggaan
masyrakat Provinsi Riau sehingga menjadi salah satu tujuan wisata alam
parawisatawan domestic amupun asing.
Kawasan Tahura SSH merupakan lokasi wisata yang sangat
strategis dekat dengan Ibu Kota Provinsi. Untuk mencapai kawasan Tahura SSH
tidak terlalu sulit Karena melewati jalan lintas Provinsi hingga mencapai pintu
gerbang masuk kawasan. Jarak tempuh untuk mencapai kawasan Tahura SSH bila
melalui Kota Pekanbaru dan dilanjutkan menempuh rute Pekanbaru-Minas
diperkirakan berjarak 23 Km dari Kota Pekanbaru dengan waktu tempuh perjalanan
± 30 menit.
1.4
Lokasi
Penelitian Ekosistem Hutan Kabupaten Minas Kabupaten Siak
Secara administratif, lokasi Tahura SSH Provinsi Riau
berada di Kecamatan Minas Kabupaten Siak seluas 767,81 ha (12,44%); Kecamatan
Tapung Hilir Kabupaten Kampar seluas 2.323,33 ha (37,64%); dan Kecamatan Rumbai
Kota Pekanbaru seluas 3.080,86 ha (49,92%). Lokasi kawasan taman hutan raya ini
berada di jalan lintas antara Pekanbaru menuju Dumai, dimana pintu gerbangnya
berada pada Km 20 yang dapat dicapai kurang lebih 15 menit dari Pekanbaru.
Secara geografis, kawasan ini terletak pada koordinat 0037’
LU – 0044’ LU dan 101020’ BT - 101028’ BT.
Adapun luas kawasan sesuai dengan keputusan Menteri Kehutanan No. 349/Kpts-II/1996
tanggal 5 Juli 1996 adalah sebesar 5.920 ha dan ditetapkan dengan SK Menteri
Kehutanan dan Perkebunan No. 348/Kpts-II.1999 tanggal 26 Mei 1999 dengan luas
6.172 ha setelah dilakukan pengukuran dan penataan batas kawasan.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Komponen Abiotik dan Biotik Ekosistem Hutan Campuran
Dataran Rendah
1.
Komponen
Abiotik
Abiotik adalah
bukan makhluk hidup atau komponen tak hidup. Komponen abiotik merupakan
komponen fisik dan kimia yang membentuk lingkungan abiotik. Lingkungan abiotik
membentuk ciri fisik dan kimia tempat hidup makhluk hidup. Contoh komponen
abiotik antara lain suhu, cahaya, air, kelembapan, udara, garam-garam mineral,
dan tang. Komponen ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi
sehingga mempengaruhi sifat yang satu dengan sifat yang lain.
Suhu
Suhu atau
temperatur adalah derajat energi panas. Sumber utama energi panas adalah
radiasi matahari. Suhu merupakan komponen abiotik di udara, tanah dan air. Suhu sangat diperlukan oleh setiap makhluk hidup, berkaitan dengan reaksi kimia
yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup
memerlukan enzim. Kerja suatu enzim dipengaruhi oleh suhu tertentu. Suhu juga
mempengaruhi perkembangbiakan makhluk hidup. Contohnya, beberapa burung
melakukan migrasi menuju ke daerah yang suhunya sesuai untuk berkembang biak.
Suhu dapat berperan
langsung hampir pada setiap fungsi dari tumbuhan dengan mengontrol laju
proses-proses kimia dalam tumbuhan tersebut, sedangkan berperan tidak langsung
dengan mempengaruhi faktor-faktor lainnya terutama suplai air. Suhu akan
mempengaruhi laju evaporasi dan meyebabkan tidak saja keefektifan hujan tetapi
juga laju kehilangan air dari organisme.
Cahaya
Cahaya merupakan
salah satu energi yang bersumber dari radiasi matahari. Cahaya matahari terdiri
dari beberapa macam panjang gelombang, intensitas cahaya, dan lama penyinaran
cahaya matahari berperan dalam kehidupan organisme. Misalnya tumbuhan
memerlukan cahaya matahari dengan panjang gelombang tertentu untuk proses
fotosintesis. Cahaya matahari merupakan sumber utama kehidupan. Tanpa adanya
cahaya matahari tanaman tidak dapat melakukan fotosintesis, sehingga rantai
makanan akan terputus karena konsumen tidak bisa mendapatkan sumber makanan
utama.
Gambar
1. Cahaya matahari yang dipancarkan ketumbuh-tumbuhan(Arsip
6E, 2014)
Air
Air
terdiri dari molekul-molekul H2O. Air dapat berbentuk padat, cair
dan gas. Di alam, air dapat berbentuk padat, misalnya es dan kristal es
(salju), serta berbentuk gas berupa uap air. Dalam kehidupan, air sangat
diperlukan oleh makhluk hidup, karena sebagian besar tubuhnya mengandung air. Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan. Dalam
ekosistem dataran rendah, air berperan dalam memberikan nutrisi terlarut dalam
bentuk cairan yang diserap oleh makhluk hidup. Semua komponen biotik yang ada
di dataran rendah tidak akan dapat hidup tanpa mengkonsumsi air, karena
sebagian besar penyusun tubuh makhluk hidup adalah air. Oleh karenanya air
memiliki fungsi yang sangat penting.
Kelembaban
Kelembaban merupakan
salah satu komponen abiotik di udara dan tanah. Kelembaban di udara berarti
kandungan uap air di udara, sedangkan kelembaban di tanah berarti kandungan air
dalam tanah. Kelembaban diperlukan oleh makhluk hidup
agar tubuhnya tidak cepat kering karena penguapan. Kelembaban yang di
perlukan setiap makhluk hidup berbeda-beda. Sebagai contoh, jamur dan cacing
memerlukan habitat yang sangat lembab.
Tanah
Meskipun
tanah merupakan komponen abiotic, namun peranannya sangat penting bagi ekosistem dataran rendah karena tanah mendukung
kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang
akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi
akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup
berbagai mikroorganisme.
1.
Komponen
biotik
Menurut Elfis (2010), komponen biotik ialah faktor
yangmeliputi semua mahluk hidup berdasarkan fungsinya,
komponen Biotik dibedakan atas:
Produsen
Produsen merupakan organisme yang mampu
membentuk makananya sendiri dari zat-zat organik melalui proses fotosintesa dan
klorofil. Contoh: tumbuhan
hijau (padi).
Konsumen
Konsumen adalah sekelompok makhluk hidup yang
memakan produsen dan hewan lainnya. Kelompok ini tidak mampu membuat makanannya
sendiri dari bahan anorganik.
Contoh: belalang, burung, siput dan lain-lain.
Pengurai
(Dekomposer)
Pengurai merupakan organisme yang menguraikan sisa-sisa
makhluk hidup lainnya yang telah mati menjadi zat-zat anorganiksebagai bahan
makanannya. Organisme pengurai adalah bakteri dan jamur.
Berdasarkan
hasil pengamatan yang kami lakukan pada tanggal 18 Mei 2014 di Kabupaten Siak,
Minas Kota Pekanbaru kami mnegamati komponen biotik penyusun hutan campuran
adalah:
Daftar komponen Biotik (Tumbuhan dan Hewan)
Tabel
1. Tumbuhan Biotik Penyusun Hutan Campuran (Arsip 6E,2014)
No
|
NAMA BOTANIS
|
NAMA DAERAH
|
SUKU
|
1
|
Alseodaphne sp
|
Medang
|
Lauraceae
|
2
|
Artocarpus elasticus
|
Terap
|
Moraceae
|
3
|
Artocarpus integra
|
Cempedak
|
Moraceae
|
4
|
Baringtonia racemosa
|
Putat
|
Lechytidaceae
|
5
|
Bouea burmanica
|
Raman
|
Anacardiaceae
|
6
|
Carallia sp
|
Pisang- pisang
|
Rhyzoporaceae
|
7
|
Castanopsis acuminatisima
|
Berangan
|
Fagaceae
|
8
|
Dacryodes rostata
|
Kedondong hutan
|
Burseraceae
|
9
|
Dillenia reticulata
|
Simpur
|
Dilleniaceae
|
10
|
Dipterocarpus crintus
|
Keruing
|
Dipterocarpaceae
|
11
|
Endospermum malaccensis
|
Sendok- sendok
|
Euphorbiaceae
|
12
|
Garcinea syzygifolia
|
Asam kandis
|
Guttiferae
|
13
|
Geronniera subaecualis
|
Siluk
|
Ulmaceae
|
14
|
Hopea mengarawan
|
Merawan
|
Dipterocarpaceae
|
15
|
Horsfieldia grandis
|
Mendarahan
|
Myristicaceae
|
16
|
Ixonanthes icosandra
|
Pagar - pagar
|
Linaceae
|
17
|
Kibatalia borneensis
|
Pulai
|
Apocynaceae
|
18
|
Melanorhoea walichii
|
Rengas
|
Anacardiaceae
|
19
|
Myristica iners
|
Mendarahan
|
Myristicaceae
|
20
|
Ochanostachys arnentacea
|
Petatal
|
Olacaceae
|
21
|
Palaquium hexandrum
|
Balam putih
|
Sapotaceae
|
22
|
Santiria graffiti
|
Lalan
|
Burseraceae
|
23
|
Scorodocarpus borneensis
|
Kulim
|
Olacaceae
|
24
|
Shorea leprosula
|
Meranti pirang
|
Dipterocarpaceae
|
25
|
Sindora walichii
|
Tamparan hantu
|
Leguminosae
|
26
|
Sloetia elongata
|
Tempinis
|
Moraceae
|
27
|
Syzygium sp
|
Kelat
|
Myrtaceae
|
28
|
Arthocarpus kemandu
|
Cempedak air
|
Moraceae
|
29
|
Archidendron bubalinum
|
Kabau
|
Leguminoceae
|
30
|
Elueocarpus ferrugincus jack
|
Bengkinang
|
Elaecarpaceae
|
31
|
Polyalthia glauca
|
Banitan
|
Annonaceae
|
32
|
Artocarpus rigidus blume
|
Tempunik
|
Moraceae
|
33
|
Bacaurea sp
|
Tampul
|
Euphorbiaceae
|
34
|
Durio carinatus
|
Durian hutan
|
Bomacaceae
|
35
|
Eudia glabra blume
|
Tenggek burung
|
Rutaceae
|
36
|
Porterandia anisophylla
|
Tengkuli tupai
|
Rubiaceae
|
Tabel
2. Hewan (biotik) Penyusun Ekosistem hutan Campuran (Arsip 6E,2014)
NO
|
NAMA HEWAN
|
NAMA ILMIAH
|
1
|
Serangga
|
Dolichoderus sp
|
2
|
Keong
|
Mendominasi
|
3
|
Katak
|
Ranae
|
4
|
Tikus
|
Mut
|
5
|
Ulat
|
Caterpillar
|
6
|
Burung Elang
|
Aqila
|
7
|
Pelatuk Sayap Merah
|
Picus puniceus
|
8
|
Semut hitam
|
Dolichoderus sp
|
9
|
Tupai
|
Tupaia japanica
|
10
|
Ular
|
Python retculatus
|
11
|
Kupu –kupu
|
Appias libythea
|
12
|
Tokek
|
Gekko gecko
|
13
|
Biawak
|
Varanus albigularis
|
14
|
Monyet
|
Macaca fascicularis
|
15
|
Kura – kura
|
Cuora amboinensis
|
16
|
Rayap
|
Isoptera
|
17
|
Capung
|
Neurothemis sp
|
18
|
Nyamuk
|
Culicidae
|
19
|
Babi Hutan
|
Susscofa
|
20
|
Beruang Madu
|
Helarctos Malayanus
|
21
|
Lalat
|
Hermetia
illucens
|
2.1
Klimatologis
dan Edaphis Ekosistem Hutan Dataran Rendah
2.2.1 Klimatologis
Ekosistem Hutan Dataran Rendah
Klimatologis berasal dari bahasa Yunani klima dan logos yang masing-masing berarti kemiringan (slope) yang diarahkan
ke lintang tempat sedangkan logos sendiri
berarti ilmu. Jadi definisi Klimatologi adalah ilmu yang mencari
gambaran dan penjelasan sifat iklim, mengapa iklim di berbagai tempat di bumi
berbeda, dan bagaimana kaitan antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena
klimatologi memerlukan interpretasi dari data-data yang banyak sehingga
memerlukan statistic dalam pengerjaannya, sering juga klimatologi disebut
sebagai meteorology statistic (Tjasyono,2004).
Iklim
merupakan salah satu faktor pembatas dalam proses pertumbuhan dan produksi
tanaman. Jenis-jenis dan sifat-sifat iklim bisa menentukan jenis tanaman yang
tumbuh pada suatu daerah serta produksinya. Oleh karena itu kajian klimatologi
dalam bidang pertanian sangat diperlukan. Seiring dengan semakin berkembangnya
isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim, membuat sector
pertanian begitu terpukul. Tidak teraturnya perilaku iklim dan perubahan awal
musim dan akhir musim seperti musim kemarau dan musim hujan membuat para petani
begitu susah untuk merencanakan masa tanam dan masa panen. Utnuk daerah tropis
seperti Indonesia, hujan merupakan faktor pembatas penting dalam pertumbuhan
dan produksi tanaman pertanian. Komponen-komponen
klimatologis adalah sebagai berikut:
1) Radiasi
Matahari
Radiasi matahari adalah pancaran energi
yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di matahri. Energi radiasi
matahari berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Spectrum radiasi
matahari sendiri terdiri dari dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar
bergelombang panjang. Sinar yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x,
sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar
infra merah (Wikipedia,2013).
Jumlah
total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor
antara lain:
a.
Jarak matahari
Setiap
perubahan jarak bumi dan matahari menimbulkan variasi terhadap penerimaan
enerhi matahari.
b.
Intensitas radiasi matahari
Yaitu
besar kecilnya sudut datang sinar matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang
diterima berbanding lurus dengan sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan
sudut datang yang miring kurang memberikan energi pada permukaan yang luas dan
juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan atmosfer yang lebih jauh
ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak lurus.
c.
Panjang penyinaran matahari (sun
duration)
Yaitu
jarak dan lamanya antara matahari terbit dan matahari terbenam.
d.
Pengaruh atmosfer
Sinar
yang melalui atmosfer sebagian akan diabsorbsi oleh gasi-gas, debu dan uap air,
dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya diteruskan ke permukaan bumi.
DATA KLIMATOLOGIS UNTUK
EKOSISTEM HUTAN
CAMPUR DATARAN RENDAH
Hutan Campur Dataran Rendah di Tahura Sultan Syarif Qasim
Kecamatan Minas Kabupaten Siak Propinsi Riau
PENGUKURAN IKLIM PERIODE APRIL-DESEMBER 2013
JANUARI –MARET 2014
(Berdasaran rekapitulasi data klimatologis sekunder dari
Stasiun Mini MeteorologiDinas
Pertanian Kabupaten Siak )
A. Rata-rata intensitas radiasi matahari (Watt/m2)
No
|
Bulan
|
Radiasi harian (Watt/m2/menit)
|
||||||
9.00
|
10.00
|
11.00
|
12.00
|
13.00
|
14.00
|
15.00
|
||
1.
|
April
|
103,9522
|
103,3915
|
103,3522
|
102,0316
|
103,6935
|
103,0290
|
103,0290
|
2.
|
Mei
|
142,0522
|
142,6222
|
142,2296
|
102,2292
|
142,2322
|
142,0220
|
142,0220
|
3.
|
Juni
|
110,2032
|
163,0222
|
110,3122
|
103,2251
|
103,9223
|
102,9321
|
102,9321
|
4.
|
Juli
|
103,9621
|
1036621
|
103,5321
|
132,2226
|
102,2225
|
103,2223
|
103,2223
|
5.
|
Agustus
|
102,9660
|
103,9922
|
103,0150
|
102,1052
|
103,3105
|
103,0222
|
103,0222
|
6.
|
September
|
102,2252
|
102,2322
|
103,6623
|
100,5391
|
103,2222
|
102,6622
|
102,6622
|
7.
|
Oktober
|
102,2662
|
102,9921
|
103,0222
|
102,6225
|
102,9920
|
103,6692
|
103,6692
|
8.
|
November
|
102,6666
|
102,2251
|
103,6692
|
103,9210
|
103,6623
|
103,9635
|
103,9635
|
9.
|
Desember
|
102,9660
|
103,9922
|
103,0150
|
102,1052
|
103,3105
|
103,0222
|
103,0222
|
10.
|
Januari
|
102,2252
|
102,2322
|
103,6623
|
100,5391
|
103,2222
|
102,6622
|
102,6622
|
11.
|
Februari
|
102,2662
|
102,9921
|
103,0222
|
102,6225
|
102,9920
|
103,6692
|
103,6692
|
12.
|
Maret
|
102,6666
|
102,2251
|
103,6692
|
103,9210
|
103,6623
|
103,9635
|
103,9635
|
1)
Suhu
Suhu
udara adalah ukuran energi kinetic rata-rata dari pergerakkan molekul-molekul.
Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan benda tersebut, untuk
memindahkan (transfer) panas ke benda-benda lain atau menerima panas dari
benda-benda lain tersebut. Dalam sistem dua benda, benda yang kehilangan panas
dikatakan benda yang bersuhu tinggi (Stamet,2009). Temperature udara adalah
tingkat atau derajat panas dari kegiatan molekul dalam atmosfer yang dinyatakan
dengan skala Celcius, Fahreinheit, atau skala Reamur. Perlu diketahui bahwa
suhu udara antara daerah satu dengan daerah lain sangat berbeda.